Calon Guru Penggerak Angkatan 9 Kabupaten Bone
Tujuan Pembelajaran Khusus: Koneksi antar materi adalah tugas CGP dapat mengaitkan materi-materi yang telah dipelajari dan materi lain yang relevan ke dalam rencana manajemen perubahan yang menerapkan paradigma dan model inkuiri apresiatif. Di tahap ini, Bapak/Ibu diminta untuk merefleksikan dan mengaitkan pemahaman antar modul yang telah dipelajari hingga kini, dengan merespon pertanyaan berikut:
Apa yang Bapak/Ibu pahami mengenai kaitan peran pendidik dalam mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila pada murid-muridnya dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA) di sekolah Bapak/Ibu?
Revisi dan rumuskan dengan penuh keyakinan, visi yang telah Bapak/Ibu buat berdasarkan jawaban pertanyaan diatas, ke dalam sebuah VISI yang membuat Bapak/Ibu bersemangat ketika membacanya, dan menggerakkan hati setiap orang yang membacanya
Merefleksikan dan Mengaitkan Pemahaman Antar Modul. Peran Pendidik dalam Mewujudkan Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara, Profil Pelajar Pancasila, dan Inkuiri Apresiatif (IA)
Dalam Kegiatan Koneksi antar materi ini akan dijelaskan tentang keterkaitan antara peran pendidik dalam mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila pada murid-muridnya dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA). Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Karena itu, peran pendidik adalah menuntun kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses ini anak harus diberikan kebebasan, namun pendidik sebagai ‘pamong’ dapat memberikan tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ akan memberikan tuntunan pada anak untuk menemukan kemerdekaannya.
Pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara tersebut masih sangat relevan untuk diterapkan pada pendidikan saat ini. Proses menuntun yang memerdekakan ini menjadi tema besar pendidikan nasional, yakni merdeka belajar. Merdeka belajar merupakan salah satu upaya kemerdekaan dalam berpikir dan berekspresi. Pada dasarnya program Merdeka belajar bertujuan untuk memerdekakan guru dan siswa, seperti semangat Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara dalam hal pendidikan.
Salah satu kebijakan program merdeka belajar yang diluncurkan oleh Mendikbudristek bertujuan untuk mencetak pelajar Indonesia yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Jadi visi dan misi pendidikan nasional adalah mewujudkan profil pelajar pancasila. Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Visi dan misi pendidikan nasional harus sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara (KHD) (2009) bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya. Peran pendidik dalam mewujudkan filosofi pendidikan KHD adalah memberikan tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki murid agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Melalui pendidikan dan pengajaran yang kita lakukan harus menuntun murid menjadi manusia merdeka. Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir dan batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar pada kekuatan sendiri. Pendidikan harus mampu menciptakan ruang bagi murid untuk tumbuh secara utuh agar mampu memulaikan dirinya dan orang lain (merdeka batin), dan menjadi mandiri (merdeka lahir).
Kaitan Visi Guru peggerak dengan Nilai dan Peran Guru penggerak harus sejalan dan mampu mewujudkan generasi Indonesia yang berprofil pelajar Pancasila. Untuk mewujudkan visi tersebut, guru penggerak harus memiliki nilai-nilai guru penggerak yaitu berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, reflektif, dan inovatif dan menerapkan peran guru penggerak: 1. Menjadi pemimpin pembelajaran, 2. Menggerakkan komunitas praktisi, 3. Menjadi coach bagi guru lain, 4. Mewujudkan kepemimpinan murid, dan 5. Mendorong kolaborasi antar guru dan stakeholder.
Visi guru penggerak dapat terwujud apabila guru penggerak menerapkan nilai-nilai dan perannya serta visi yang yang dimiliki itu terukur, konkrit, direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis. Untuk mencapai hal tersebut Guru penggerak dapat menerapkan pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA). Inkuiri Apresiatif (IA) adalah pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan (David Cooperrider, 2015) IA menggunakan prinsip –prinsip utama psikologi positif di sekolah. Implementasi IA dimulai dengan mengidentifikasi hal-hal baik di sekolah, mencari cara mempertahankan hal-hal baik tersebut dan memunculkan strategi untuk meningkatkan hal tersebut kearah yang lebih baik.
Untuk mencapai visi tersebut maka diperlukan suatu rancangan yang disebut dengan inkuiri apresiatif (IA). Inkuiri apresiatif adalah manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan yang dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik yang ada di sekolah, kemudian mencari cara agar hal baik tersebut dapat dipertahankan dan memunculkan strategi perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Implementasi IA terdiri atas 5 tahapan yang dirangkum dalam sebuah akronim BAGJA yang meliputi:
B = Buat pertanyaan. Langkah ini digunakan sebagai penentu arah penelurusan terkait perubahan yang kita inginkan. Berikut ini contoh pertanyaan yang dapat digunakan untuk memulai proses lainnya.
A = Ambil pelajaran. Langkah ini dapat dilakukan setelah pertanyaan utama disepakati. Bagian ini akan menuntun mengambil pelajaran dari pengalaman individu atau kelompok baik dalam unsur yang berbeda maupun sama.
G = Gali mimpi. Pada tahapan ini komunitas sekolah (Kepala Sekolah, Guru, Siswa) akan menggali mimpi sebagai keadaan ideal yang diinginkan dengan digambarkan secara rinci melalui sebuah narasi dan diperlukan pertanyaan-pertanyaan pemandu dalam penyusunan narasi,
J = Jabarkan rencana. Tahapan ini akan mengidentifikasi tindakan yang diperlukan dan mengambil keputusan-keputusan. Ketika perencanaan awal kita perlu membuat pertanyaan-pertanyaan untuk membantu penyusunan rencana agar lebih konkret
A = Atur eksekusi. Tahapan ini membantu transformasi rencana menjadi nyata. Diperlukan pertanyaan2 yang dapat membantu memutuskan peran dan kesepakatan-kesepakatan pelaksanaan.
Berdasarkan refleksi dan mengaitkan pemahaman antar modul 1.1, 1.2, dan 1.3, maka dirumuskan visi Guru Penggerak yaitu: “Terwujudnya Murid Berakhlak Mulia,Mandiri,Kreatif, dan Berwawasan Global''


Tidak ada komentar:
Posting Komentar